Dulu Saya Baca Buku Ini, Pikiran Saya Meletup
Dulu, pas umur 20-an,
saya baru lulus kuliah. Hidup serba tekanan harus cari kerja, harus
ngasah skill, nyoba bisnis bareng teman, ini-itu
banyak dilakukan. Capek sih, tapi happy. Setidaknya saya dapet pengalaman
menarik.
Di masa itu, saya iseng
baca buku "Mind Power" penulisnya John Kehoe.
Bukunya nggak tebel.
Tapi isinya... mind blow buat saya.
Buku itu ngajarin
tentang hubungan antara pikiran manusia dengan fenomena alam. Saya jadi
mikir: "Masa sih, pikiran saya bisa memengaruhi realitas?"
Tapi entah kenapa, bekal
yang sedikit itu bikin saya jadi lebih percaya diri dalam
menjalani hidup.
Beberapa tahun kemudian,
jagat internet lagi rame soal Law of Attraction (LOA) lewat
buku The Secret-nya Rhonda Byrne. Saya beli, baca, dan ternyata...
isinya kurang lebih sama dengan Mind Power. Bedanya, The
Secret lebih populer dan bahasanya lebih kekinian.
Di YouTube juga banyak
yang bahas LOA. Saya nemu satu channel yang lumayan ringan : 1 Hari
Sukses — video tentang "Law Of Attraction: Membuat Semesta Mendukung Impian Kita".
Dari situ saya mulai
paham : LOA itu bukan sekadar "pikiran positif" doang. Ada prosesnya.
Bagian 1 : Apa Itu Law of Attraction?
(Versi Sederhana)
Sederhananya, LOA
itu kekuatan pikiran yang mampu menarik apa yang kita inginkan jadi
kenyataan.
Konsep ini sebenarnya
bukan barang baru. Udah ada sejak lama. Mirip dengan ajaran Karma di
Hindu-Buddha, atau konsep Qada dan Qadar dalam Islam.
Intinya: apa yang kita tanam, itu yang kita tuai.
Tiga proses utama dalam
LOA:
- Meminta
dengan jelas —
tahu persis apa yang kita mau.
- Yakin —
percaya
bahwa kita bisa dapetin itu.
- Menerima —
merasa sudah punya, merasa pantas, dan bertindak selaras.
Jadi bukan cuma
"duduk diam sambil membayangkan uang jatuh dari langit". Tapi harus ada aksi di
dalamnya.
Bagian 2 : Saya Pernah Coba — Hasilnya
Lumayan (Meski gak 100% Sempurna)
Saya bukan praktisi LOA.
Bukan juga ahli yang udah sukses besar. Saya cuma orang biasa yang penasaran
dan pernah mencoba.
Beberapa hal yang saya
alami :
1. Waktu saya sakit, saya coba terapin. Sembuhnya lebih cepat dari biasanya.
Mungkin kebetulan. Mungkin juga karena pikiran saya sedang lebih tenang efeknya tubuh jadi lebih rileks. Tapi saya ngerasa ada bedanya.
2. Saya menikah dengan perempuan yang sebelumnya tidak saya kenal. Tapi spesifikasinya sesuai dengan yang saya pikirkan.
Saya nggak bilang ini "hasil LOA". Bisa jadi ini juga ketentuan Tuhan. Tapi yang jelas, saya sempat membayangkan seperti apa pasangan yang saya harapkan, umurnya berapa, tempat tinggalnya dimana. Dan pada kenyataannya, saya bertemu dengan orang yang sesuai dengan bayangan itu.
3. Saya punya anak perempuan. Ini juga sesuai harapan saya.
Probabilitas punya anak laki-laki atau perempuan kan 50:50. Tapi saya nggak bisa "memilih", hanya bisa mengharapkan. Dan harapan itu terkabul. Lagi-lagi, bisa jadi ini doa, bisa jadi LOA, bisa juga cuma kebetulan. Tapi saya tetap bersyukur.
Sekarang ini, jujur,
pikiran saya lagi nggak terarah. Ada banyak keresahan. Tapi saya percaya satu
hal : kita perlu belajar dan berselaras dengan alam.
Percaya atau tidak
dengan LOA, setidaknya proses belajarnya membuat jiwa
saya
bisa lebih tenang. Dan ketenangan itu penting, karena dalam keadaan
tenang, kita bisa mengambil keputusan yang lebih jernih, meskipun lagi dalam
kesulitan.
Bagian 3 : Kaitan LOA dengan
Agama (Supaya Nggak Tersesat)
Saya akan coba kaitkan
ini dengan agama. Bukan untuk menggurui. Tapi supaya kita tidak lupa dari mana
sistem ini berasal, siapa yang mengabulkan permintaan kita, dan kepada siapa
kita meminta.
Dalam Islam, doa adalah
sesuatu yang wajib. Saya yakin semua agama mengajarkan hal-hal baik tentang
doa.
Nah, kalau kita kaitkan dengan
LOA, sebenarnya doa itu bentuk lain dari "meminta dengan jelas". Tapi
bedanya, doa nggak cukup diucapkan. Doa juga butuh pikiran dan rasa.
Dalam sebuah hadis
qudsi, Allah berfirman:
"Aku sesuai persangkaan hamba-Ku." (HR. Bukhari & Muslim)
Artinya? Apa
yang kita yakini, itu yang akan kita dapatkan.
Kalau kita berprasangka
baik, maka kita akan mendapatkan kebaikan. Kalau kita berprasangka buruk, ya
itu yang akan kita dapat.
Sederhana, kan?
Dalam Islam juga ada
konsep Qada dan Qadar (takdir). Saya nggak akan bahas panjang
di sini, tapi intinya : kita berusaha, kita berdoa,
lalu kita bertawakal. Hasilnya bukan sepenuhnya di tangan kita, tapi di tangan
Tuhan.
LOA versi sekuler sering
lupa aspek ini. Mereka bilang "semesta akan memberi". Tapi bagi
saya, yang memberi adalah Tuhan. Semesta hanyalah fasilitas.
Bagian 4 : Afirmasi, Dzikir, dan
Alam Bawah Sadar
Di buku Mind
Power, dijelaskan tentang afirmasi positif , yaitu sesuatu yang kita ucapkan secara berulang.
Contoh :
Tanpa sadar kita sering mengucapkan dalam pikiran “Ayo semangat, semangat”. “Ayo bisa, aku bisa”.
Dalam Islam, kita
mengenal konsep dzikir. Bedanya, dzikir biasanya berisi pujian
kepada Allah atau kalimat-kalimat thayyibah. Tapi konsepnya sama : diucapkan
berulang untuk menanamkan sesuatu ke dalam hati dan pikiran.
Fungsinya? Menanamkan
apa yang kita pikirkan ke alam bawah sadar.
Alam bawah sadar itu
seperti tanah yang subur. Apapun bibit yang kita tanam, pasti akan
"jadi". Kalau kita tanam pikiran positif, akan tumbuh hal-hal
positif. Kalau kita tanam rasa takut dan cemas, itu pula yang akan tumbuh.
Dulu orang tua juga sering bilang :
"Ucapan adalah doa".Jadi mulai sekarang Stop mengeluh!, jangan gampang ngeluh lalu dengerin lagu2 galau. Percaya atau tidak pada saat itu kamu sedang menanam benih yang tidak berkualitas.
Sekarang saya paham.
Ucapan itu bukan sekadar suara. Ucapan itu adalah bibit. Dan bibit
itu akan tumbuh, cepat atau lambat.
Bagian 5 : Cara Sederhana
Menerapkan LOA (Kalau Kamu Tertarik)
Saya bukan guru. Tapi
kalau kamu penasaran, ini hal-hal sederhana yang bisa dicoba :
- Tulis
keinginanmu dengan jelas. Jangan muluk-muluk. Mulai dari yang
realistis.
- Rasakan
seolah kamu sudah memilikinya. Ini adalah konsep bersyukur - Bukan sekadar berkhayal.
- Ucapkan afirmasi
positif setiap hari. Bisa
di pagi hari setelah bangun tidur.
- Bertindak
selaras. Kalau
kamu mau sukses, ya harus belajar dan bekerja. Jangan cuma diam.
- Jangan lupa
berdoa. Serahkan
hasilnya kepada Tuhan. Yakin bahwa apa yang diberikan adalah yang terbaik
untukmu.
Percaya atau tidak
percaya, yang terpenting adalah kita bisa menenangkan pikiran dan jiwa.
Karena dalam ketenangan itu, kita bisa mengambil keputusan yang lebih baik.
Penutup : Pikiran Itu Magnet,
Tapi Bukan Sihir
Setelah bertahun-tahun,
saya menyimpulkan :
LOA itu bukan sihir.
Bukan juga sekadar "berpikir positif lalu kaya mendadak". LOA
adalah mengarahkan pikiran, perasaan, dan tindakan ke arah
yang positif. Lalu membiarkan hukum alam
berjalan sebagaimana mestinya, atau kalau saya bilang, izin Tuhan yang bekerja.
Apakah LOA selalu akurat
100%? Tidak. Saya juga tidak pernah mendapat hasil yang persis sesuai bayangan.
Tapi setidaknya saya mendapatkan hal-hal
baik yang mungkin tidak akan saya dapatkan kalau saya tidak ceria dan bergerak.
Yang jelas, satu hal
yang paling berharga : saya jadi lebih
tenang. Dan ketenangan itu bagi saya, adalah kekayaan yang tidak
ternilai.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar